Fiqh Muamalah

Kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai aspek, karena manusia hidup dalam ruang sosial yang melakukan aktivitas bersama. Dalam interaksi sosial tentu adanya percakapan dan kontak fisik, hingga urusan perniagaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam urusan perniagaan lebih akrab disebut dengan muamalah. Dimana terjadinya hubungan antara si penjual dan pembeli. Dalam hal ini penting bagi kita untuk memahami lebih dalam tentang muamalah yang akan dibahas dalam perspektif fiqh muamalah.

Apa itu fiqih muamalah?

Sebelum sahabat hasana membaca lebih lanjut tentang fiqih muamalah, kita akan membedah sedikit dua akar kata judul di atas.

Fiqih secara umum bermakna pemahaman. Kemudian fiqih dalam istiah adalah mengetahui hukum agama secara terperinci dengan dalil syarak yaitu Alquran, hadis, dan ijmak.

Sedangkan muamalaat(معاملات) merupakan kalimat jamak dari muamalah (معا ملة) yang berasal dari kata عامل-يعامل-معاملة. Kata amil (عامل) berarti kerja, kalimat ini dalam ilmu sharaf sudah berubah makna menjadi saling bekerja.

Ketika kedua definisi ini digabungkan akan membentuk arti baru yang terbagi dalam dua kategori.

Pertama, muamalah dalam arti yang luas yaitu hukum Allah yang mengatur manusia tentang urusan duniawi dan interaksi social.

Kedua, muamalah dalam arti khusus yaitu hukum Allah yang wajib ditaati manusia dalam hal harta, baik cara memperoleh dan mengembangkannya. 

Di samping dua pengertian di atas ada pula beberapa pengertian lain tentang fiqih muamalah.

Fiqih muamalah diartikan suatu aktivitas duniawi yang dikerjakan untuk menghasilkan ukhrawi.  Fiqih muamalah juga suatu ketentuan hukum diantara masyarakat tentang pengelolaan harta yang saling menguntungkan satu sama lain.

Dari pengertian di atas dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang imu fiqih, karena dia merupakan ilmu syariat yang paling melekat dalam hidup manusia. Sehingga penerapan ilmu fiqih muamalat pun demikian.

Makna fiqih muamalat jika dipersempit lagi akan menghasilkan definisi bahwa muamalah adalah akad yang membolehkan manusia untuk saling menukar manfaat.

Pengertian fiqih muamalah disini lebih mengerucut kepada suatu keharusan menaati hukum Allah yang diatur untuk cara memperoleh, mengelola dan mengembangkan harta.

Aturan-aturan ataupun produk hukum yang  telah ditetapkan Allah sejatinya untuk kemaslahatan kita ketika berinteraksi duniawi dan sosial masyarakat. Karena dimanapun dan kapanpun manusia harus  senantiasa mengikuti ketentuan Allah karena semua itu akan dipertanggung jawabkan.

Pentingnya Mempelajari Fiqih Muamalah

Dalam agama islam ada 3 aspek utama yang dipelajari yaitu aqidah, syariah dan akhlak . Dalam aqidah akan dibahas tentang tauhid, akhlak akan mendalami tentang etika, sedangkan syariah akan membahas tentang fiqih. Dalam fiqih ini pun menjadi dua bagian; fiqih ibadah dan fiqh muamalah.

Kita akan lanjut dalam fiqih muamalah yang pengertiannya sudah dijelaskan di atas sebelumnya, sekarang kita akan membahas seberapa pentingnya mempelajari ilmu fiqih muamalat?

Semasa khalifah Umar bin Khattab beliau sering mengunjungi pasar untuk melihat situasi dan praktik jual belinya. Sehingga di hadapan para pedagang beliau berkata.

” tidak boleh jual beli di pasar kita kecuali orang yang mengerti hukum fiqih dalam agama kita.”

Ucapan khalifah di atas dapat kita jabarkan dalam beberapa kasus.

Tidak boleh melakukan aktivitas jual beli kalau tidak mengerti hukumnya, tidak boleh ikut berbisnis kalau belum tahu fikihnya, jangan ikut perbankan kalau belum mendalami ilmunya, jangan gabung asuransi kalau belum paham sistemnya, jangan tergiur bisnis MLM kalau belum jelas halal haramnya. Begitu seterusnya untuk setiap praktek muamalat yang ada di tengah umat kecuali sudah paham fikih muamalah.

Dalam alquran kita diwajibkan untuk mempelajari islam secara kaffah/sempurna, dalam artian setiap seluk beluk yang akan kita masuki harus memilki ilmunya. Ingin mengenal Allah, pahami tauhid. Ingin beribadah pelajari tatacaranya. Begitu juga ingin berinteraksi muamalah pelajari fiqihnya. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Akibat yang terjadi ketika umat isam tidak memahami ajaran islam secara sempurna, ketika dia masuk dalam satu bab dalam islam, katakanlah dalam konteks yang sedang kita bahas ini muamalat, maka terjadinya praktek muamalat yang haram dengan terjadi riba, penipuan, syubhat, haram, bathil, masyir dan sebagainya.

Hal itu semua terjadi karena minimnya ilmu pengetahun, padahal kita berada dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan. Pesantren banyak, ada ulama tempat kita bertanya. Lulusan ekonomi syariah juga banyak, ada yang lulusan luar negri, tetapi kita enggan untuk bertanya bagaimana hukumnya. 

Urusan mempelajari fiqih muamalah ini hukumnya sudah fardu ‘ain, yaitu wajib bagi siapa saja yang ingin masuk dalam bab muamalat. Karena muamalat ini merupakan pondasi penting dalam islam. Sebab itulah yang menjadikannya wajib untuk dipelajari.

Salah satu pentingnya memahami fiqih muamalah adalah mencegah umat islam untuk jatuh ke praktek haram seperti riba, penipuan, akad yang tidak sah dan lainya, karena umat islam harus menjadi umat yang bertaqwa kepada Allah, dan umat yang bertaqwa akan menjadikan muamalahnya sebagai sarana ibadah, setiap transaksinya ikhlas dan bersih dari hal yang haram.

Jika kita membaca sejarah kembali, islam masuk ke Indonesia juga melalui jalur perdagangan oleh saudagar Arab yang telah melakukan perdagangan mulai dari Mesir, Persia, Gujarat, Cina hingga tibalah ke Indonesia di pulau Sumatra.

Salah satu bukti perdagangan menjadi jalur penyebaran islam di Indonesia juga terlihat dengan batu nisan yang berada di wilayah Samudara Pasai Aceh yang mirip dengan batu nisan Gujarat (sebuah wilayah di India). Sehingga mayoritas penduduk Indonesia yang bermazhab Syafi’I berasal dari pengaruh penduduk Gujarat yang bermazhab Syafi’I, sebagaimana disebutkan dalam teori Gujarat.

Dalil lain yang menguatkan kita untuk mempelajari ilmu fiqih muamalat ini dengan diutuskannya Nabi Syu’aib ke penduduk Madyan, yang kisahnya diabadikan dalam QS Hud ayat 84-85.

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي

 أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ (٨٤) وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تَعْثَوْا فِي 

 (الأرْضِ مُفْسِدِينَ (٨٥

“dan kepada kaum Madyan kami utuskan saudara mereka Syuaib. Berkata ia; hai kaumku sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagi kalian selain-Nya, dan janganlah kalian mengurangi sukatan dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kalian dalam kebaikan, dan aku takut kalian mendapatkan azab yang membinasakan.”

“wahai kaumku sempurnakanlah sukatan dan timbangan  dengan adil, dan janganlah merugikan manusia akan hak mereka, dan janganlah berbuat kejahatan di muka bumi dengan berbuat kerusakan”

Dari ayat di atas ada penekanan dari Nabi Syuaib berdasarkan perintah Allah agar hati-hati dalam melakukan transaksi pada sukatan dan timbangan yang digunakan. Ayat ini diturunkan karena praktek transasksi yang terjadi di kalangan umat Nabi Syauib sudah menyalahi hukum.

Macam / Ruang Lingkup Fiqih Muamalah Dan Penjelasannya

Bagaimana proses berjalannya fiqih muamalah di tengah masyarakat tidak disebutkan secara rinci. Hal ini berbeda dengan fiqih ibadah yang disebutkan secara rinci. Sedangkan fiqih muamalah bentuk perwujudutannya tergantung manusia, selama tidak ada hukum yang membatasi atau melarangnya baik dari Alquran maupun hadis.

Syariat mengatur permasalahan dalam fiqih muamalah pada pokoknya saja. sehingga sifatnya terbuka dan memungkinkan terjadinya modernisasi yang diperoleh dari hasil ijtihad.

Oleh karena kemajuan zaman dan teknologi pula, wujud transaksi dalam fiqih muamalah juga berubah-ubah. Dalam hal ini prakteknya masih dalam garis umum, yakni semua akad masih diperbolehkan  selama tidak ada nash larangan dari alquran dan hadis.

Syeh Abdul Wahhab Khallaf (ulama Mesir) melihat dari ruang lingkup muamalah dan membaginya kepada beberapa bagian, diantaranya:

 Ada hukum yang mengatur hubungan manusia dalam unit terkecil seperti sebuah rumah tangga yang terdiri di dalamnya seorang ayah, ibu dan anak. Di dalam hukum ini diatur bagaimana hak dan kewajiban setiap anggota keluarga. Hukum yang berlaku di sini diistilahkan dengan  hukum keluarga (ahkam al ahwal al syakhiyyah).

Selanjutnya ada hukum perdata (al ahkam al maliyah) , di dalamnya diatur tentang usaha seseorang dalam pemasalahan jual beli (bai’ wal ijarah), pegadaian, perkongsian/ persyarikatan jual beli, utang piutang dan seputar akad. Permasalahan seputar hukum perdata ini spesifik dibahas dalam kitab kuning maupun kontemporer, karena perputaran masalah yang berlaku sering terjadi di tengah masyarakat. 

Kemudian ada hukum pidana/ jinayah. Hukum ini biasa terjadi setelah pemasalahan harta jika dilihat dari rentetan kasus yang terjadi di masyarakat. di dalamnya dirincikan kasus kejahatan dan sangsi terhadap pelaku kejahatan. Hukum ini bertujuan untuk menjaga kehormatan manusia dari tindak laku kejahatan serta menjaga kehidupan manusia dan hartanya.

Untuk menyelesaikan setiap permasalahn antar manusia dalam hal muamalah ini maka dibutuhkan suatu produk hukum di dalamnya, maka adalah hukum acara/ al ahkam al mauarafat. Di mana akan ada di dalamnya pembahasan peradilan, kesaksian dan sumpah. Dengan adanya hukum ini akan mewujudkan keadilan dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam hal muamalah.

Selain itu juga ada hukum kenegaraan (al hukmu al duwailiyah). Hukum ini mengatur batasan antar masyarakat dalam kelompok terkecil hingga hubungan diplomatic antar Negara. Bagaimana suatu Negara berhubungan dengan Negara lain dalam masa damai, masa perang, termasuk juga batasan hubungan umat islam dengan umat lainnya yang masih satu Negara.

Juga ada dalam bab ini al ahkam al dusturiyyah yaitu hukum perundang-undangan yang membatasi hukum diantara hakim dan kliennya. Guna membatasi hubungan emosional dan bisa menetapkan hak seseorang maupun suatu kelompok tanpa ada tekanan apapun.

Terakhir, pembagian tentang hukum ekonomi dan keuangan (al iqtishadiyyah wal maliyyah). Hukum yang dibahas di sini lebih mendalam, di mana disebutkan dalam harta seseorang ada hak orang lain. Seperti hak golongan fakir miskin pada harta orang kaya. Juga termasuk di dalamnya pembahasan pemasukan dan pengeluran kas Negara.

Seputar  Muamalah Dalam Alquran

Banyak hal yang dibicarakan dalam alquran, bagaimana kita membangun  tatanan sosial yang berasaskan keadilan dan adab. Karena setiap individu dan kelompok masyarakat memiliki korelasi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Termasuk dalam konteks manusia menzalimi dirinya sendiri bahkan menzalimi orang lain, di saat kita berbicara tentang kematian seorang Firaun dan qarun, Alquran hadir memberikan gambaran tentang kehancuran seseorang, peradaban dan kemasyarakatan.

Bahkan di saat manusia melakukan hubungan sesamanya, Allah selalu hadir diantara manusia. Sebagaimana Allah hadir di tengah pembicaraan dua orang, Allah menjadi yang ketiga. Ketika tiga orang sedang bicara, Allah jadi yang ke empatnya. Sebagaimana dalam surat Mujadalah ayat 7.

Ayat ini hadir sebagai kritikan alquran terhadapa konspirasi jahat dari lawan islam. Lebih mendalamnya lagi, ayat ini hadir sebagai acuan sedalam apapun yang dibicarakan manusia, Allah mengetahui apa yang dibicarakan.

Maka dalam permasalahan muamalah kita harus selektif dan berhati-hati dalam menerapkannya. Karena Allah tidak tidur dan selalu mengawasi apa yang dikerjakan manusia.

“Sungguh tuhanmu benar-benar  mengawasi” QS Al Fajr ayat 14.

Alquran diturunkan juga sebagai solusi atas permasalahan ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Keduanya merupakan  aspek yang paling berkaitan dengan masyarakat dan menjadi dua sisi mata koin.

Dari permasalahan sosial dan ekonomi ini, kita bisa melihat apa yang terjadi di kota Mekah silam. Kota Mekah adalah kota perdagangan yang makmur, tetapi mereka mengeksploitasi kaum bawah yang tidak memiliki suku, para budak dan orang sewaan.

Bagaimana keadaan sosial yang terjadi di Mekah pada masa itu digambarkan oleh alquran sebagai kehidupan  yang kikir tak berperasaan , dalam satu sisi hidup dalam kemegahan dan satu sisi lainnya  terjadi kemiskinna dan kesengsaraan.

“bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahuinya.” QS At Takatsur 1-4

Alquran tidak melarang manusia mengumpulkan harta kekayaan, justru harta kekayaan yang melambangkan kemakmuran diistilahkan “fadhlillah / keutaaman Allah“.  Alquran sendiri memandang kedamaian dan kekayaan sebagai bentuk rahmat Allah yang tertinggi.

 Akan tetapi ketika manusia menyalahgunkan harta dan menyimpang dari makna harta sebagai karunia Allah, alquran menganggap harta itu sebagai “sesuatu yang sedikit di dunia ini” dan “khayalan duniawi” sebagaimana dalam surat Al imran ayat 14, 185 dan 197.

Saking besarnya perhatian alquran dalam melihat muamalah, para ahli ibadah akan menjadi munafik ketika mereka  tidak memperhatikan nasib orang-orang miskin.

“tahukah kamu orang yang mendustkan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah orang-orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat ria dan enggan menolong dengan barang yang berguna” QS Al Maun 1-7

Tanda kita melihat lemahnya manusia paling mendasar adalah lihatlah bagaimana dia kikir dan tidak melihat kepada orang yang membutuhkan.

Dari kisah kota Mekah di atas yang penduduknya telah merasa memiliki harta sepenuhnya dan berhak mempergunakannya secara bebas, Alquran menekankan sebaliknya. Manusia tidak memiliki harta kekayaan sepenuhnya, ada hak orang lain di dalamnya.

“dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai  apa-apa(yang tidak meminta-minta)” QS Al Ma’arij ayat 25

Dari ayat di atas pula munculnya istiah tentang hukum ekonomi dan keuangan (al iqtishadiyyah wal maliyyah) yang menjadi kelompok pembahasan ilmu fiqih muamalah.

Alquran pun dengan tegas melarang manusia menghabiskan harta kekayaan dan menghamburkannya sesuka hati. Karena manusia tidak boleh membuat pulau kesejahteraan di tengah lautan kemiskinan.

Dalam mempergunakan harta kekayaan alquran memberikan gambaran yang jelas agar umat islam “membelanjakan hartanya di jalan Allah” dan “bersedekah” sehingga pahalanya dilipatgandakan daripada melakukan praktek riba yang menyedot darah kaum fakir miskin.

Disebutkan dalam alquran bahwa mengeluarkan harta untuk yang membutuhkan, ibarat menanam benih yang tumbuh jadi tujuh bulir, daam setiap bulir itu menjadi lagi seratus biji bahkan lebih.

Sebaliknya orang yang mengeluarkan harta karena riya, harta itu ibarat lapisan tipis di atas batu yang seketika terhapus disapu hujan lebat, hingga tak tersisa apapun lagi selain batu.

Ketika ada diantara manusia yang mengeluarkan hartanya semata-mata mengharap keridhaan Allah, hartanya itu diibaratkan sebuah kebun di atas dataran tinggi yang disiram hujan lebat yang buah didalamnya menghasilkan dua kali lipat. Andaikata pun hujan tidak menyiraminya, hujan gerimis sudah memadainya. Alquran menyatakan demikian.

“setan  menjanjkan (menakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kikir, sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunanNya dan karunia” QS Al Baqarah, 268.

Dalam praktek al hukmu al maliyah, Al quran melarang praktek riba dengan dasar ayat dalam alquran surat Ar Rum ayat 39. Adanya pelarangan riba dalam alquran merupakan hal pokok kesejahteraan sosisal.  

 Selain pengentasa riba, solusi lain dalam fiqih muamalat untuk mensejahterakan ekonomi dan kesejahteraan sosial adalah zakat dalam artian yang luas. Seperti membebaskan orang dari hutang kronis, imbalan untuk pengelola zakat, kepada muallaf, untuk pos pertahanan, alokasi pendidikan dan kesehatan.

Hal di atas jika dilihat secara luas sudah termasuk di dalamnya tentang penyelenggaraan sebuah negara mencakup keseluruhannya. Namun seiring waktu kita melihat zakat dalam artian yang sempit sehingga zakat hanya dianggap sebagai ritual. Di siniah peran fiqih muamalah berdasarkan asas bernegara.

Di dalam alquran juga banyak disebutkan ayat tentang hukum keluarga seperti QS Al Baqarah ayat 2, An Nisa ayat 36, dan Al An’am ayat 151. Pada ayat-ayat barusan alquran memperkuat unit dasar dalam sebuah keluarga, bagaimana hubungan orangtua dan anaknya, hubungan dengan kakek-neneknya hingga hubungan dengan masyarakat muslim. Lebih lagi penekanannya kuat pada berbakti orangtua.

Sebagaimana dalam QS Al Hujurat ayat 49, sesama muslim dideklarasikan sebagai “saudara”. Hubungan sesama muslim diibaratkan sebuah pondasi yang kuat yang mana mereka memprioritaskan saudaranya yang membutuhkan sedangkan dia juga dalam keadaan yang membutuhkan.

Serangkain pemabahasan di atas merupakan sebagian pandangan alquran melihat seputar permasalahan muamalah di antara manusia. Tentunya masuk banyak ayat dan hadis yang membahasanya secara khusu dan terperinci.

Penutup

Para ahli hukum islam melihat hak hak manusia dengan landasan pemikiran yang kukuh, sehingga ada 4 hak yang sangat fundamental, yaitu hak hidup yang jelas disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 5. Kemudian ada hak beragama dalam surat Al Baqarah ayat 256,  hak memilih harta dan hak atas kehormatan diri.

Kesemua persoalan muamalah dalam islam jelas di atur dalam alquran dan dipetakan secara lengkap dalam setiap ayat. Serta solusi jika terjadi permasalahan juga ada. Maka dari sedikit uraian di atas, semoga memberikan gambaran bagaimana melihat persoalan dalam kehidupan sehari-hari, menjaga dan menjain hubungan yang harmonis dari ruang lingkup terkecil; keluarga, hingga dalam hidup bermasyarakat.